Unschooling is…

– You can learn anything at your own time, your own pace and you can stop at any level if you feel satisfied.
-Unschooling = hackschooling. What is hackschooling? You are finding the right and easiest way for you to learn something. For example: tira want to learn about building a computer. Instead of finding a course about building computers, tira finds his source of material through youtube tutorial with no specific guideline of which/who’s video to see first.
– No curriculum. Kami mengikuti dan memfasilitasi kebutuhan, minat dan bakat anak saat ini.
– Hanya melakukan yang disukai? Tidak. Belajar atau menguasai sesuatu yang baru dan tidak kita ketahui dan kuasai sebelumnya adalah sesuatu yang sulit. Kemampuan untuk belajar, berfikir dan berjuang perlu diasah dan dibiasakan. Kami hanya memilih jalur belajar yang tidak menekankan/focus ke akademis.
– Kami menjadi fasilitas belajar anak. Menciptakan dan menyediakan momen-momen belajar agar anak-anak menjadi manusia dewasa.

Advertisements

Our Unschooling

Tujuan pendidikan keluarga kami adalah membantu anak-anak untuk menjadi pribadi yang dewasa. Dewasa dalam artian secara fisik terjadi secara otomatis sedangkan dewasa secara mental harus diupayakan dan dilatih karena sifatnya tidak serta merta. Pernah bertemu dong dengan orang yang umurnya sudah cukup banyak tapi kelakuan tidak sesuai dengan umurnya.

Dewasa secara mental berarti mampu membuat keputusan secara rasional dan mandiri berdasarkan resiko yang akan dihadapinya. Di dalamnya ada kemampuan-kemampuan yang perlu dikuasai. Salah satunya adalah kemampuan (mau dan mampu) berjuang, melakukan segala sesuatu untuk mendapatkan yang dia mau dan sadar akan resiko yang dihadapinya. Kemampuan berfikir dan bersepakat dengan dirinya sendiri juga sangat penting untuk dilatih dan dibiasakan.

Poin-poin yang disebutkan diatas jadi penting karena hidup kita sangat tergantung dengan dinamika pikiran kita sendiri. Sehingga perlu untuk kita bersahabat dan bersepakat dengan diri sendiri. Bersepakat dengan diri sendiri tidaklah mudah. Sebagai sarana belajar bersepakat dengan diri sendiri maka kami melatih dan membiasakan anak untuk bersepakat dengan orang lain. Dalam bersepakat ada materi belajar percaya, dipercaya dan belajar kecewa. Belajar kecewa bukan berarti tidak merasakan kecewa tapi sanggup merasakan rasa kecewa dengan aman (tidak menyakiti diri, orang lain atau barang).

Kesanggupan-kesanggupan inilah yang jadi materi belajar homeschooling kami. Kami orang tua sebagai fasilitator belajarnya. Menjadi dan menciptakan momen-momen belajar buat anak-anak untuk menjadi manusia dewasa.

#ourUNschooling

Prilaku baru 5 Oktober 2017

Alma:
1. Makin mahir berjualan
2. menyimpan hasil karyanya sendiri di tempat khusus
3. Meminta untuk melanjutkan project roller bladenya
4. Makin mahir membaca walau sering melihat gambar saja
5. makin cepat dalam bersih-bersih
6. mendeklarasikan bahwa dia adalah seorang artist
Maji:
1. Memulai membuat binocular sendiri dan bertahap memperbaiki kekurangannya
2. berhasil menenangkan dirinya sendiri ketika diganggu temannya
3. makin mahir memakai baju dan celana

Hal baru untuk dikuasai
1. Maji kemampuan memilih
2. Alma: kemampuan bersepakat win win

Why I Got Married?

Dulu saya malas menikah. Cenderung ogah malah. Soalnya lihat banyak contoh kalau menikah itu tidak enak. Banyak masalah dan membosankan. Akhirnya punya begitu banyak pendapat anti main stream tentang pernikahan, cinta, pasangan dan teman-temannya:

  1. Saya tidak percaya sama soulmate atau jodoh.
  2. Saya tidak percaya cinta akan menyelesaikan segalanya. Saya percaya pasangan harus bekerja keras untuk membuat hubungannya bekerja dengan baik, tidak bisa hanya modal cinta terus berharap semua baik-baik saja.
  3. Pasangan suami istri itu hendaknya equal partner,  berbagi peran dan fungsi, tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah.
  4. Kalau orang-orang memberikan pendapat tentang percintaan dengan kata-kata “follow your heart”, saya justru sepakat dengan nasihat  “use your brain” . Bedanya apa? menurut saya kalau pakai hati, emosi yang nyetir keputusan kita, jadi ga bisa mikir jernih deh apalagi kalau keburu suka banget sama pasangan. Kalau kata Om Gombloh  “Kalau cinta sudah melekat, tahi kucing rasa coklat”  *jebakan umur :p
  5. Selain pasangan harus bisa berfikir dewasa, mereka juga harus bisa lepas ketika sedang bersenang-senang. Bisa terbengong-bengong memandangi bulan yang indah, joget-joget ga jelas ditengah keramaian, norak liat sesuatu yang baru, ga jaim dan gengsian… kalau ga bosan banget pasti rasanya.
  6. Dan masih banyak lagi pendapat nyeleneh saya soal ini 😀

Poin-poin ini yang menurut saya bisa memudahkan mengarungi topan badai pernikahan, jadi kalau tidak ada yang seperti diatas, mending ga usah aja deh… :p

 

Jadilah sejak umur 25 tahun, saya kerjanya berantem mulu sama emak soal jodoh. Pacar mah ada aja tapi ga nikah-nikah. Seperti emak pada umumnya, pengen liat anaknya cepat nikah, Sedang anaknya yang bengal ini bilang

aku mau nikah kalau aku yakin sama orangnya.”

 Emak langsung sewot… “ga ada lah orang itu yang 100% yakin”.

ya kalau gitu aku ga usah nikah aja…” terus ditimpuk duren deh ma emak 😛

Tapi dasarnya saya keras kepala,  itu yang saya yakini, itu yang saya jalani. Sampai saya ketemu laki-laki bernama Tira. Apa yang membuat dia beda dari yang lain? Pertama dia tiddak membuat saya ilfil. Ketika bertemu dengan prospekan pertama kali… berasa MLM ga sih ? 😀  saya selalu membayar makanan  dan minuman saya sendiri dan apabila ketemu laki – laki yang tidak memperbolehkan saya membayar sendiri apalagi ditambah dengan kata-kata ” sudah tugas laki dong yang bayar.” langsung deh coret namanya. Biasanya masuk penganut paham “lelaki adalah pemimpin keluarga” yang ga masuk sama prinsip saya.

Diajak diskusi enak banget. Bukan soal nyambung apa tidak tapi keterbukaannya terhadap sesuatu ide yang saya suka. Cara dia menghadapi konflik juga oke. Lalu saya yang keras kepala dan mandiri ini tidak pernah sekalipun merasa disetir atau dikuasai  tapi saya masih bisa menghormati pendapatnya. Jadilah sebulan setelah jadian rasanya mantap sekali menjawab iya ketika diajak nikah. Tapi alih-alih menyisir internet untuk ide pernikahan paling oke, saya malah mencari pertanyaan-pertanyaan yang harus diajukan ke pasangan sebelum menikah. Semua yang bisa dibahas sekarang, mari dibahas sekarang. Jangan sampai beli kucing dalam karung kan…

so i send him an email that said…

“bagus nih untuk dibahas.”

20 Questions to Ask Before Marriage

Issues to ask before marriage

We end up talking all night long and discuss so much more. Yang paling saya suka dari diskusi ini is how well we discuss it. Semuanya merasa didengar dan punya kesempatan yang sama untuk berbicara. Kalau saja dia enggan diajak diskusi tentang poin-poin diatas, pasti saya juga akan mundur teratur. Tidak ketinggalan Tira yang pendiam itu ternyata lucu bin norak, just the way i like it 😀

Long story short… Kami sekarang sudah menikah 8 tahun. Tentu saja ada naik turunnya tapi yang jelas kami masih bisa berdiskusi dengan baik dan bersenang-senang dengan baik pula. Menjawab pertanyaan judul post ini… Why did i got married? I finally found someone who can discuss like an adult but have fun like a child 😀

Pertama

Perkenalkan terlebih dulu pemilik blog ini bernama Nada. Emak dari 2 anak dan punya satu suami saja, bernama Tira. Blog ini adalah jelmaan dari beberapa blog yang lampau, yang hanya berujung dibeberapa postingan awal dan kemudian mati suri   ntah kenapa hobby bener bikin blog baru, bukannya terusin aja yang lama…. :p

Menulis memang bukan hobby saya tapi niatan untuk mendokumentasikan kehidupan keluarga kami tetap ada. Apalagi kalau dilihat-lihat pilihan hidup kami yang rada-rada ajaib. Saya yang menjalaninya saja kadang suka terheran-heran sendiri… 😀

Seperti kutipan diatas, hidup ini bagi kami memang bak naik roller coaster. Menakutkan tapi juga menyenangkan dan kami dengan sadar memilih jalan hidup seperti itu. Hidup hanya sekali bukan… let’s take a risk, make mistake and have a lot of fun. Live for the experience!